Welcome to MillahIbrahim.net

Home | Kajian Lepas | Kajian Serial | Manhaj Risalah | Buku Tamu | Webmail | Lanibin
 
::: Kajian Lepas
· Muqaddimah
· Pastikan Anda Masuk Syurga
· Ayat-Ayat Mutasyabihat
· Al Qur'an, Antara Rahmat dan Laknat
· Al Qur'an dan Perselisihan Umat
· Download Materi

::: Kajian Serial
· Mencari Pesanan Allah
· Dholuuman Jahuulan
· Tiga Golongan Manusia
· Yang Harus Terbawa Pulang
· Mencari Akses Hidayah
· Iman dan Pertumbuhannya
· Melacak Syetan
· Memblokir Syetan
· Menutup Jalur-Jalur Syetan
· Mencari Hakikat Iman
· Hakikat Al-Qur'an dalam Sistem Hidayah
· Menyingkap Alam Gaib

::: Manhaj Risalah
· Muqaddimah
· Potensi dan Kelemahan Manusia
· Ketika Datang Petunjuk Allah, dan Diikuti
· Esensi Amanah
· Distorsi dan Kerancuan
· Telusur Jalan yang Lurus
· Millah Ibrahim
· "Syajaroh Thoyyibah" berbuah "Sab'ah Thoyyibah"
· Antara Dienul Islam dan Peradaban Islam
· Kesatuan Asasi dan Keanekaragaman Budaya
· Asas-Asas Pembangunan Peradaban Islam
· Khotimah
· Download Materi

::: General Features
· Buku Tamu
· Feedback to Webmaster
· Beritahu Situs ini ke Teman
· Statistik MillahIbrahim.net

::: Member Features
· List Member/Anggota
· Daftar Member Baru
· Kirim Tulisan/Berita
· Webmail MillahIbrahim.net

::: Pengunjung Online

Saat ini terdapat 5 orang pengunjung yang sedang online.


 
::: MANHAJ RISALAH :::
- DISTORSI DAN KERANCUAN -

Allah   Pengertian “Kholifah” yang banyak berkembang selama ini, lebih berkonotasi politik, yakni pemimpin dari suatu sistem kekuasaan. Akibatnya hampir setiap kelompok yang menyatakan sebagai pejuang atau mujahhid yang memperjuangkan Dienullah.
Celakanya lagi, untuk meraih kekuasaan tersebut, harus merebut dari tangan orang lain.
 


Telah menjadi pengetahuan umum di kalangan kaum Muslimin bahwa berawal dari diutusnya Nabi Adam, manusia telah ditetapkan Allah sebagai Kholifah Allah di muka bumi. Namun lebih lanjut dari itu, nyaris tidak pernah terwacanakan secara jelas dan memuaskan, implementasi dari pengetahuan tadi.
  1. Bagaimana pengertian yang jelas dan benar dari apa yang dimaksud “Khalifah Allah di Bumi”?
  2. Bagaimana Missi Khilafah ini diimplementasikan dan digelar.
  3. Apakah Kaum Muslimin selama ini telah menjalankan dengan baik missi tersebut, atau mengabaikannya, atau bahkan mengkhianatinya ?
Pengertian “Kholifah” yang banyak berkembang selama ini, lebih berkonotasi politik, yakni pemimpin dari suatu sistem kekuasaan. Akibatnya hampir setiap kelompok yang menyatakan sebagai pejuang atau mujahhid memperjuangkan Dienullah. Selalu bersifat perjuangan politik, mengarah kepada diraihnya kekuasaan politik. Celakanya lagi, untuk meraih kekuasaan tersebut, harus merebut dari tangan orang lain. Bila perlu dengan melakukan perlawanan dan perang terhadap sistem kekuasaan yang ada. Sungguh suatu kerancuan visi dan pandangan terhadap perang, yang mungkin bisa dan pernah terjadi dalam sejarah perjalanan Risalah Samawi yang dibawakan para Nabi dan Rosul.

Amanah Allah itu sungguh berat. Langit, bumi dan gunung-gunung tak mampu mengemban amanah tersebut. Artinya keutuhan Asma Allah itu tak mungkin bisa tertampilkan dengan tercipta dan tampilnya langit, bumi dan gunung-gunung, dan merekapun tak mampu berbuat apapun untuk mengatasi ketidak mampuannya itu.

Memang benar bahwa dengan menyaksikan secara mata telanjang saja terhadap langit, bumi dan gunung-gunung cukup tergetar rasa kagum dan takjub akan kebesaran Allah, Sang Maha Pencipta. Namun yang demikian itu baru menggambarkan sebagian kecil saja dari Asma Allah, yang juga dalam takaran dan intensitas yang tidak memadai.

Manusialah yang diciptakan Allah dengan kapasitas dan potensi yang memungkinkan untuk mengemban missi ini. Tapi mereka punya kelemahan yang amat mendasar yang akan bisa menutup kemungkinan tadi, yaitu : amat dholim dan amat bodoh. Mustahil missi ini akan berhasil diemban oleh manusia yang dholim dan bodoh.

Oleh sebab itu, adalah menjadi syarat mutlak bagi manusia untuk mengikis dan menyingkirkan sifat-sifat kedholiman dan kebodohan pada dirinya.

Lebih jelas lagi, kemungkinan bagi manusia untuk mampu mewujudkan amanah khilafah ini antara lain :
  1. Manusia harus senantiasa menjaga kefithrahan dirinya agar mampu mengakses ilmu Allah dengan bersih dan lurus, agar terhindar dari kedholiman dan kebodohan.
  2. Senantiasa komitmen dan konsisten pada tatanan Dienul Haq secara lurus dan murni (“mukhlishien lahu`d dien”) suatu bimbingan dan petunbjuk Allah yang sesuai benar dengan konsep dasar penciptaan alam semesta dan tabiat dasar manusia itu sendiri.
  3. Senantiasa menjaga eksistensi dan estafeta risalah samawi ini dari zaman ke zaman. Deposit Ilmu Allah yang tak terbatas dengan Al Quran sebagai buku petunjuknya itu, mustahil mampu diakses dan digali oleh manusia dari hanya beberapa generasi. Demikian pula rencana dan amanah Allah, tidak mungkin mampu diwujudkan oleh beberapa generasi yang terbatas, melainkan semua generasi manusia sepanjang zaman.
Namun kenyataan yang terjadi dalam perjalanan sejarah Dienul Islam sepeninggal Rosulullah Muhammad, justru kontradiksi dengan apa yang semestinya, yaitu ketiga prasyarat tersebut diatas.

Berikut adalah gambaran dari apa yang merupakan kenyataan tersebut

1. Sulit untuk dikatakan bahwa kualifikasi nufus (sumber daya insani) di kalangan kaum Muslimin masa ini, terjaga dalam fithrahnya dan memiliki kualitas yang standard. Masalahnya adalah :

Pertama : Proses taswiyyatun nufus (pertumbuhan jiwa) yang berlangsung di kalangan Kaum Muslimin telah begitu jauh dan melenceng berat dari konsep Kalimatullah, baik yang termaktub dalam Al Kitab maupun yang terbentang sebagai fakta-fakta alamiyah (Al Hikmah). Bahkan kerancuan dan fasad yang terjadi dalam tataran ini jauh lebih berat daripada apa yang dilakukan kalangan sekuler. Dengan kata lain proses pengrusakan karakter SDM di kalangan ummat Islam telah dan sedang berlangsung terus sejak belasan abad yang lalu.

Kedua : Proses perusakan terhadap visi dan wawasan keimanan dan pola pikir Islami semakin gencar terjadi. Baik berupa suguhan-suguhan munkarot dari sumber-sumber eksternal yang berpengaruh negatif, maupun informasi-informasi keilmuan Islam itu sendiri, dari sumber-sumber internal yang semakin menyesatkan.

2. Konsep Dienul Haq telah terbenam begitu jauh dari jangkauan wawasan dan nalar Kaum Muslimin, karena dominannya konsep Aabaa`ana (mengikuti apa kata orang tua atau orang-orang terdahulu), yang telah melenceng jauh dari kebenaran. Penyimpangan itu sudah sedemikian jauhnya sehingga orang-orang Islam sudah tidak lagi mengenali Dienullah yang merupakan Dienul Haq (Agama Kebenaran) itu. Bahkan ketika benih-benih Dienul Haq itu kembali bersemi dan menggejala tumbuh kembali, mereka malah memusuhunya bahkan memeranginya

3. Hampir seluruh Kaum Muslimin di muka bumi berkeyakinan bahwa perjalanan risalah samawi telah mencapai garis finish dan sempurna, dengan selesainya Risalah Nabiyullah Muhammad. Dengan demikian universalitas Konsep Samawi jadi terkebiri bahkan terbunuh, dan terhenti pada sekitar abad ke 7 masehi (dengan kata lain berhenti tumbuh dan mati). Maka dari itu mana mungkin peradaban yang terus hidup dan berkembang, hanya diniati dengan konsep produk abad ke 7 yang sudah daluwarsa dan bahkan mati. Padahal petunjuk Allah yang merupakan konsep “produk samawi” ini, adalah konsep yang hidup dan berkembang terus sampai ketinggian yang tak terhingga.

Akibat dari fenomena di atas, selama belasan abad ini Ummat Islam bukanlah menjadi agen pembangunan peradaban yang suci, mulia serta menakjubkan dan mempesona sebagai missi khilafah yang diembannya. Bahkan justru sebaliknya, budaya hidup yang mereka tampilkan, di berbagai sudut dan sisinya, penuh dengan nuansa dan rona yang mengenaskan, memprihatinkan, memalukan, membingungkan, menyebalkan, menggelisahkan, mengerikan dan menakutkan. Kalaupun ada sisi-sisi yang menyejukkan, ternyata hanya hayalan dan fatamorgana. Itu adalah fakta yang sulit dibantah. Alih-alih merekalah yang paling vokal dan percaya diri mengklaim sebagai satu-satunya ummat pewaris surga firdaus..... (???)
Memalukan...



Sebelumnya  | 1  | 2  | 3  | 4  | 5  | 6  | 7  | 8  | 9  | 10  | 11  | 12  | Selanjutnya |

  

Penanggung Jawab : Amirul 'Am Abdul Halim Muhajir
Editor & Content Management : Fauzy Sya'banie - Technical Support : Husein

Dedicated to : Muslimin Fillah Rahimahumullah
Copyright © 2004 Ummuddar Kuningan, Jawa Barat