|
| ::: KAJIAN LEPAS ::: |
| - AL QUR'AN DAN PERSELISIHAN UMAT - |
|
|
 |
|
Manusia sebagai satu species yang memiliki
tabiat dan karakteristik asasi yang sama, setelah dihadapkan kepada
keberagaman lingkungannya itu, maka berbagai sisi dan fungsi jiwanya
terakses dengan sifat, komposisi dan takaran yang pasti berbeda-beda.
Tingkat kecerdasan, emosi, imajinasi, kerakusan, kedengkian, kasih sayang
dan sebagainya, tumbuh berkembang dengan variasi yang sangat kompleks.
Pantas sekali jika lantas timbul perselisihan, perbedaan dan perpecahan di
kalangan mereka. Namun demikian, perselisihan itu sangat
berpotensi kearah perpecahan dan pertentangan, yang pada tingkat dan
takaran tertentu, dapat menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri. |
|
|
Sub Judul :
· Perselisihan, Sebuah Proses Alami
· Kontrol Samawi Terhadap Perselisihan Manusia
· Hukum Tanpa Hakim, Apa Mungkin ?
· Terapi Kira-Kira
· "Virus" Perselisihan Kelas Berat
· Penelusuran Diagnostik
PERSELISIHAN, SEBUAH PROSES ALAMI
"Manusia itu adalah ummat yang satu. Kemudian Allah mengutus Nabi-nabi
sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Dia menurunkan bersama
mereka itu Al Kitab, untuk memutuskan diantara manusia tentang apa yang mereka perselisihkan.
Dan tidaklah berselisih tentang Al Kitab itu, melainkan orang-orag yang justru telah meraihnya
(mendapatkannya), namun terdapat persaingan (rebutan kepentingan) di antara mereka.
Maka Allah memberi petunjuk (menunjuki) orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang
mereka perselisihkan itu dengan idzin-Nya. Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya kepada 'Shirothol Mustaqiem'”
(Al Baqoroh: 213).
Pada dasarnya manusia itu adalah ummat yang satu. Artinya satu species diantara jutaan species makhluq Allah, yang memiliki tabiat asasi yang sama, mempunyai hasrat/keinginan dan ketakutan asasi yang sama, serta sistem dan pola dasar kehidupan yang sama, seperti hal- nya makhluq-makhluq lainnya dalam satu species yang sama.
"Dan tidaklah binatang-binatang yang menapak di bumi serta burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan ummat-ummat (juga) seperti kamu. Dan tidaklah kami luputkan sesuatupun dalam Al Kitab. Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan." (Al An’am : 38)
Manusia yang merupakan salah satu “ummat” itu, adalah mahluk yang paling dimanjakan Allah, dan diberi banyak kelebihan dari makhluq-makhluq lainnya. Dengan akal budi yang dikaruniakan Allah kepadanya, manusia diberi kesanggupan untuk tinggal dan hidup di seluruh bagian muka bumi ini, baik di daratan maupun di lautan dalam berbagai kondisi alam dan lingkungan yang beraneka ragam.
"Dan sungguh telah kami muliakan (manjakan) Bani Adam dan kami gelar mereka di daratan dan di lautan dan mereka kami beri rizki dari yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang kami ciptakan, dengan kelebihan yang sempurna". (Al Isro: 70).
Dalam keaneka ragaman kondisi alam dan lingkungan yang dihadapi manusia, beragam dan bervariasi pula fasilitas yang berhasil diperoleh manusia dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya, serta beragam dan bervariasi pula tantangan ketakutan dan ketidak senangan yang dihadapinya.
Manusia sebagai satu species yang memiliki tabiat dan karakteristik asasi yang sama, setelah dihadapkan kepada keberagaman lingkungannya itu, maka berbagai sisi dan fungsi jiwanya terakses dengan sifat, komposisi dan takaran yang pasti berbeda-beda. Tingkat kecerdasan, emosi, imajinasi, kerakusan, kedengkian, kasih sayang dan sebagainya, tumbuh berkembang dengan variasi yang sangat kompleks. Pantas sekali jika lantas timbul perselisihan, perbedaan dan perpecahan di kalangan mereka.
Phenomena di atas adalah realitas yang merupakan bagian integral dari “skenario” Allah (Sunnatullah), dalam mengantarkan peradaban manusia ke arah yang menjadi “program” Allah.
"Dan tidaklah keadaan manusia itu, melainkan sebagai satu ummat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena suatu konsep (Kalimat) yang telah mendahului (mendasari) dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan". (Yunus:19).
Namun demikian, perselisihan itu sangat berpotensi kearah perpecahan dan pertentangan, yang pada tingkat dan takaran tertentu, dapat menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri.
| Sebelumnya | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | Selanjutnya |
|
|